Jumlah Vaksin Cacar Monyet Terbatas, Inggris Lakukan Uji Coba Vaksin


Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengumumkan akan melakukan uji coba vaksinasi cacar monyet atau monkeypox untuk pasien yang memenuhi syarat dosis vaksin lebih kecil. 

Hal tersebut menjadi sebuah langkah yang memungkinkan lima kali lebih banyak orang terlindungi dari penyakit cacar monyet, dikarenakan keterbatasan ketersediaan vaksin. 

Sebelumnya, negara ini telah melakukan vaksinasi cacar monyet untuk kelompok paling berisiko. 

Bulan lalu, Inggris telah memesan tambahan 100.000 dosis vaksin cacar Imvanex, yang dikenal sebagai Jynneos produksi Bavarian Nordic, diharapkan tiba bulan September mendatang. 

Hasil uji coba vaksin cacar monyet dosis kecil UKHSA menyampaikan bahwa penelitian menunjukkan dosis vaksin cacar monyet yang lebih kecil menghasilkan respons kekebalan yang hampir identik dibandingkan dengan dosis penuh. 

Pendekatan tersebut telah digunakan dalam wabah virus lain di seluruh dunia ketika persediaan vaksin terbatas, dan kini akan diterapkan saat cacar monyet mewabah. 

"Pasokan vaksin cacar global yang digunakan untuk memerangi cacar monyet terbatas tetapi kami bertindak lebih awal untuk memastikan Inggris memperoleh jumlah dosis maksimum yang tersedia,” kata Dr Mary Ramsay, kepala imunisasi di UKHSA seperti dikutip dari The Guardian.

Adapun uji coba yang dilakukan akan membantu memaksimalkan jangkauan stok vaksin yang tersisa, termasuk 100.000 dosis yang akan tiba bulan depan, yang berpotensi memungkinkan untuk menawarkan perlindungan bagi ribuan orang lainnya. 

"Kami akan terus gesit dalam menanggapi wabah cacar monyet dan akan menyesuaikan pendekatan kami saat ilmu pengetahuan dan saran baru tersedia," ujar Ramsay. 

Uji coba vaksin cacar monyet dosis kecil Untuk uji coba vaksin cacar monyet dengan dosis lebih kecil tersebut, menargetkan penerima berusia 18 tahun ke atas dengan diberikan 0,1 ml dosis, yang mana dosis penuhnya sebesar 0,5 ml. 

Ditilik dari tingkat kematiannya yang di bawah satu persen, ahli menyebut bahwa cacar monyet tidak berbahaya dibandingkan wabah lain seperti Covid-19, pes, ebola, sampai cacar. 

Uji coba vaksin cacar monyet ini akan dilakukan di sebuah klinik kesehatan seksual di Manchester, yang kemudian disusul oleh dua klinik di London, Inggris. 

UKHSA mengatakan kelayakan untuk vaksinasi sebelum paparan tetap tidak berubah, termasuk gay dan biseksual yang memenuhi kriteria seperti memiliki riwayat beberapa pasangan atau berpartisipasi dalam kelompok seks. 

Namun, hal ini membatasi tawaran vaksinasi setelah terpapar cacar monyet kepada kelompok yang paling berisiko terkena penyakit parah, seperti orang dengan imunosupresi, anak-anak di bawah usia lima tahun, dan wanita hamil. 

Saat ini, kelompok-kelompok tersebut akan terus menerima dosis penuh vaksin cacar monyet. Baca juga: Waspada Cacar Monyet, Ketahui Arti Suspek, Konfirmasi, hingga Kontak Erat Dr Will Nutland, asisten profesor kehormatan di London School of Hygiene & Tropical Medicine dan salah satu pendiri PrEPster mengatakan bahwa penggunaan dosis vaksin cacar monyet yang lebih kecil adalah sesuatu yang pragmatis dan disambut baik. 

“Masyarakat yang terlibat dengan kami ingin menerima vaksinasi sesegera mungkin, dan para pilot memberikan kesempatan untuk memahami penerimaan dan kelayakan pemberian vaksinasi dengan cara ini,” papar dia. 

“Bukti menunjukkan bahwa dosis fraksional, bila diberikan dengan benar, sama efektifnya dengan metode vaksinasi yang saat ini digunakan. Kita sekarang harus secara kolektif bergerak untuk memastikan bahwa mereka yang diberi kesempatan untuk menerima vaksinasi mendapat informasi lengkap dan percaya diri untuk maju ketika diundang," pungkasnya. (dbs)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama